-
0 Komentar
Berita Terkait:























































































































Sekarpuro, 27 Mei 2020. Dalam rangka pencegahan dan penanganan COVID-19, Pemerintah Desa Sekarpuro melaksanakan penyemprotan disinfektan untuk kesekian kalinya.
Kali ini, Desa Sekarpuro bekerjasama dengan DAMKAR dan PMI Kab. Malang melakukan penyemprotan disinfektan di seluruh wilayah Desa Sekarpuro, terutama di area-area publik seperti tempat ibadah atau sekolah.
Semoga pandemi COVID-19 segera mereda dan kita bisa beraktifitas normal seperti sedia kala.
Sekarpuro, 21 Mei 2020. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah Desa Sekarpuro Kecamatan Pakis Kabupaten Malang secara rutin memberikan insentif kepada Guru Ngaji yang berhak menerima.
Kegiatan ini dilaksananakan pada hari Kamis, 21 Mei 2020. Mengingat masih dalam kondisi Pandemi COVID-19, maka acara diselenggarakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, yaitu memakai masker dan jaga jarak.
Alhamdulillah setiap guru ngaji telah menerima haknya masing-masing, semoga menjadi barokah dan bermanfaat bagi semua.


MALANG – Pemerintah Desa Sekarpuro siap mengelola dan mengembangkan Situs Sekaran sebagai destinasi wisata. Namun demikian, untuk pengelolaan tersebut, pihak desa menginginkan status lahan di Situs Sekaran telah diserah terimakan, dari PT Jasamarga Pandaan Malang kepada Pemkab Malang.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Sulisrmanto. Menurut Sulirmanto, pihaknya akan senang hati jika dapat mengelola Situs Sekaran. Bahkan dia juga yakin, Situs Sekaran tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya. Tapi juga menjadi ikon Kabupaten Malang.
“Nanti akan dipercantik kawasannya. Ada taman bermain anak, ada fasilitas olah raga dan lainnya. Sehingga orang yang berkunjung pun akan semakin nyaman,’’ kata Sulirmanto.
Dia mengatakan, untuk perbaikan dan melengkapi fasilitas di area situs, pihaknya akan menganggarkan di APBDes. Sementara untuk eskavasi lanjutan, pihaknya pun tetap meminta bantuan dari Pemerintah Kabupaten Malang.
“Karena biaya untuk eskavasi sendiri cukup mahal. Kalau itu dibebankan ke desa terus terang kami tidak memiliki anggaran. Tapi kalau membangun fasilitas, seperti taman bermain lampu penerangan, dan fasilitas olahraga, anggaran kami masih mencukupi,’’ ungkap Sulirmanto.
Sulirmanto juga mengatakan, sebelumnya sudah membuat surat ke pihak PT JPM terkait asset Situs Sekaran. Namun tidak ada jawaban.
“Kami berharap melalui momen saat bersih-bersih Situs Sekaran semuanya memiliki pemahaman yang sama, terkait situs ini. Apalagi pak Bupati juga sudah siap memberikan dukungan,” katanya.
Sementara itu Arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Wicaksono Dwi membenarkan adanya wacana Desa Sekarporo untuk mengelola Seitus Sekaran. Tapi demikian, sebelum tanah di situs tersebut dibebaskan, maka desa juga belum dapat mengelola.
Kalau hasil pertemuan sebelumnya jelas. Yaitu PT JPM sedang memproses surat hibah. Ya, PT JPM berniat menghibahkan langsung tanah it uke Pemkab Malang. “Informasinya saat ini masih dalam proses hibah. Setelah selesai, nanti akan diserahkan ke Pemkab Malang. Baru kemudian terserah Pemkab Malang akan diserahkan ke siapa,’’ katanya.
Pria yang akrab dipanggil Ucok ini juga berharap, saat mengelola nanti, pengelola harus betul-betul intens sehingga keutuhan situs pun dapat terjaga.
Kepada Malang Post, Ucok juga berharap Situs Sekaran ini dapat menjadi laboratorium penelitian. “Tapi itu nanti. Kalau sekarang fokus kami masih pada pembangunan dinding dan atap dulu. Baru kemudian proses hibah,’’ tandasnya.(ira/jon)
Editor : Jon Soeparijono
Penulis : Ira Ravika
https://malang-post.com/berita/detail/desa-sekarpuro-siap-kelola-situs-sekaran


Bupati Malang HM Sanusi (tengah lengan baju warna merah) beserta rombongan saat mengunjungi situs Sekaran
Hingga memasuki awal tahun 2020, Situs Sekaran yang berlokasi di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, masih belum menemukan kejelasan terkait siapa yang berhak mengelolanya.
Meski demikian, situs yang diperkirakan dibangun pada abad X-XIII Masehi dan sempat tertimbun sebelum akhirnya ditemukan pada Maret 2019 ini, sudah mendapatkan “pinangan” dari beberapa pihak.
Salah satunya dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang.
Bahkan, hari ini (9/2/2020) rombongan pemerintah dan tokoh politik mulai dari Bupati Malang HM Sanusi, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Sri Untari, hingga Ketua DPRD Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto, mengunjungi salah satu situs bersejarah yang ada di Kecamatan Pakis tersebut.
Dalam kunjungannya, Sanusi mengaku saat ini pihaknya sedang intens menjalin koordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim).
Salah satu hal yang dikoordinasikan adalah terkait laporan biaya yang dibutuhkan untuk rekonstruksi situs Sekaran tersebut.
”Nanti bagaimana kelanjutannya, anggaran yang dibutuhkan akan segera kami sampaikan ke dewan untuk dianggarkan dalam APBD (Anggaran Pembelanjaan Bulanan Daerah) Kabupaten Malang,” terang Sanusi.
Langkah Pemkab Malang untuk mendapatkan hak guna mengelola Situs Purbakala tersebut, memang terbilang cukup ngotot.
Terbukti, dalam waktu dekat ini Sanusi mengaku pihaknya bakal segera berkoordinasi dengan instansi terkait yang ada di tingkat provinsi agar bisa meraih bantuan dari pusat.
”Jika anggaran yang dibutuhkan cukup besar, nanti kita akan mengajukan bantuan ke pusat. Akan kita sharing-kan dengan Kementrian Pariwisata dan juga Pemerintah Provinsi,” tandas Sanusi.
Terpisah, Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho, mengaku hingga saat ini pihaknya masih belum bisa memastikan berapa besaran anggaran rekonstruksi situs bersejarah yang berada di Kecamatan Pakis tersebut.
Namun untuk memastikan berapa anggaran yang diperlukan, pihaknya menyarankan agar Pemkab Malang aktif berkoordinasi dengan kementrian dan pemerintah provinsi Jatim.
”Nanti yang berperan penting untuk anggarannya adalah Pemkab Malang, kemudian bisa segera ditindaklanjuti ke pusat dan provinsi,” tutupnya.
https://jatimtimes.com/baca/208945/20200209/205100/terkait-pengelolaan-situs-sekaran-pemkab-malang-bakal-gandeng-pemprov-dan-kementrian
Situs purbakala yang ditemukan di proyek pembangunan jalan Tol Malang – Pandaan ternyata sudah ditemukan pada November 2018.
Hal itu disampaikan oleh Muhammad Arifin (44) Ketua RT 15 RW 08 Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
“Penemuan situs purbakala ini berserta benda-benda kuno sebenarnya sudah ditemukan sejak lima bulan lalu saat Truk Bego menguruk tanah yang ada di sana,” ucapnya.
Jarak antara penemuan situs purbakala yang berupa struktur bangunan batu-bata dengan penemuan benda-benda kuno sekitar 200 meter.
Kata Cak Mat panggilan akrabnya itu mengaku, tak hanya menemukan koin kuno saja, dirinya juga menemukan emas.
Emas yang ditemukan oleh Cak Mat itu berbentuk segi delapan dengan panjang satu centimeter.
“Kalau bentuk dan fungsinya saya tidak tahu. Tapi kata Dwi Cahyono, ahli sejarawan, emas yang ditemukan itu berbentuk delapan penjuru mata angin seperti yang ada pada zaman Kerajaan Majapahit,” ujar Cak Mat.
Cak Mat mengaku emas yang ia temukan itu pernah ditawar oleh seorang kolektor benda kuno sebesar Rp 4 Juta.
Namun ia tak mau menjualnya lantaran ia ingin mengkoleksi benda-benda kuno yang ia temukan tersebut.
“Sudah banyak yang menawar, tapi saya enggan untuk menjual. Berbeda dengan warga yang lain, saya memang tidak mau menjual koleksi ini,” ucapnya.
Kata Cak Mat panggilan akrabnya itu mengaku, tak hanya menemukan koin kuno saja, dirinya juga menemukan emas.
Emas yang ditemukan oleh Cak Mat itu berbentuk segi delapan dengan panjang satu centimeter.
“Kalau bentuk dan fungsinya saya tidak tahu. Tapi kata Dwi Cahyono, ahli sejarawan, emas yang ditemukan itu berbentuk delapan penjuru mata angin seperti yang ada pada zaman Kerajaan Majapahit,” ujar Cak Mat.
Cak Mat mengaku emas yang ia temukan itu pernah ditawar oleh seorang kolektor benda kuno sebesar Rp 4 Juta.
Namun ia tak mau menjualnya lantaran ia ingin mengkoleksi benda-benda kuno yang ia temukan tersebut.
“Sudah banyak yang menawar, tapi saya enggan untuk menjual. Berbeda dengan warga yang lain, saya memang tidak mau menjual koleksi ini,” ucapnya.
“Jadi koin ini ditemukan tiga meter di dalam tanah di sebuah lemari seperti peti. Kemudian lemari itu pecah dan koin itu berserakan,” ujarnya.
Saat ditanya di mana posisi lemari tersebut, kata Cak Mat telah hancur dan dibuang oleh petugas pembangunan Tol Malang – Pandaan.
Cak Mat hanya memperoleh lempengan besi bekas dari hancurnya lemari tersebut.
“Tak hanya emas, saya juga menemukan benda-benda lain seperti alat pahat, gerabah dan batu akik,” tandasnya.
Sumber: SuryaMalang.com
Siapa menyangka bila usaha rumahan di Pakis, Kabupaten Malang mampu produksi hijab berkualitas favorit artis Instagram. Hijab berbahan viscose dengan label Khalewale itu kian laris manis tak hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri.
Hijab bahan viscose banyak diminati karena bahan nyaman dipakai serta mudah dibentuk. Selain itu, hijab yang diberi nama Jumeirah ini juga tidak mudah kusut sehingga banyak hijaber (sebutan bagi wanita modis berhijab) banyak memborong hijab seharga Rp 40 ribu itu.
Artis Instagram seperti Amelia Elle dan Aghnia Punjabi rupanya kerap mengenakan hijab produksi Ratna Roihaanah Azmi. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu bisa menjual minimal 400-500 pcs hijab dalam waktu seminggu saja.
Jumlah itu hanya memenuhi pasar dalam negeri, sebab wanita yang akrab disapa Nana itu kebanjiran tawaran dari luar negeri. Sayang, Nana belum mau mengirim produk hijab Khalewale ke luar negeri.
“Belum, soalnya masih kewalahan sama stok dalam negeri,” ujarnya kala ditemui MALANGTIMES di rumahnya kawasan Sekarpuro Pakis Kabupaten Malang, Selasa (14/3/2017). Tak pelak, omset usaha hijab Nana itu cukup besar yakni berkisar Rp 20-25 juta.
Hijab Khalwale dijual hanya secara online di akun Instagram @khalewale. Soal nama produk, Nana mengaku punya alasan. Kata ‘Khalewale’ diambil dari bahasa Arab sehari-hari yang artinya terserah.
“Khalewale mengandung banyak makna. Itu bisa berarti terserah. Dan buat saya terserah orang mau bilang apa tentang jualan saya,” tutur wanita berkacamata itu.
Pemilihan nama ‘Khalewale’ tak lain karena banyak yang mencibir keputusan Nana memilih berjualan hijab dibanding bekerja lebih mapan. Apalagi predikat sebagai sarjana, Nana kerap disindir.
“Terserah orang lain jual yang lagi tren misal pasmina instan, tapi bila saya nggak sreg jualan trend seperti itu ya sudah saya jual yang sesuai dengan kemauan saya. Saya tak mau semata mengikuti tren,” kata Nana.
Hijab berlabel Khalewale produksi Nana dibuat di rumahnya di Sekarpuro, Pakis Kabupaten Malang. Selain ia turun tangan dalam proses produksi mulai pemilihan kain hingga menjahit, Nana juga memperkerjakan dua orang ibu rumah tangga.
“Karena saya sangat menjaga kualitas, agak susah mencari pegawai yang bisa sesuai keinginan saya. Makanya saya kewalahan hingga pembeli harus pre-order dulu untuk bisa dapat Jumeirah dari Khalewale,” tandasnya. (*)
Sumber: MalangTimes.com
Wakil Bupati Malang Sanusi menginginkan agar situs Sekaran, Sekarpuro dapat menjadi tempat wisata. Hal ini diungkapkannya saat hendak mengunjungi situs Sekaran, Sekarpuro, Pakis, Malang, Jawa Timur.
“Kami ingin itu nanti jadi pariwisata purbakala,” ujar Sanusi saat ditemui Republika.co.id, di Kantor Balai Desa Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang, Selasa (2/4).
Meski demikian, Sanusi mengaku, belum bisa memastikan fisibilitas harapan tersebut. Pasalnya, dia masih mengikuti hasil penelitian dan diskusi para pengelola proyek tol Pandaan-Malang. Hal ini termasuk menanti analisis dari tim arkeolog yang telah ditunjuk pemerintah pusat.
Menurut Sanusi, keberadaan situs di Sekaran menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sementara itu, keputusan pelebaran proyek tol di lokasi tersebut menjadi wewenang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Oleh sebab itu, pihaknya masih menunggu hasil investigasi dari pihak terkait.
“Nanti setelah selesai investigasi penangananya kayak apa kita ikuti saja. Kalau nanti dilimpahkan ke kabupaten, kami yang mengelola dan sebaliknya,” ujar dia.
Belum lama ini, terdapat laporan temuan reruntuhan situs purbakala di atas lahan proyek tol Pandaan-Malang. Situs berada di Dusun Sekaran, Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang, tepatnya di atas lahan pembangunan jalan tol ruas Malang-Pandaan sektor IV, kilometer (km) 35.
Temuan ini dilaporkan berupa struktur bata yang saat ini berada di dinding tebing tanah sisi barat daya jalan tol. Situs dapat ditemukan karena level tanah direndahkan sekitar tiga meter guna pembangunan jalan tol. Menyusul temuan tersebut, pengerjaan proyek tol di lokasi tersebut dihentikan sementara.
Sumber: Republika.co.id
Kepala Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Sulirmanto bersyukur, telah ditemukannya situs di Dusun Sekaran.
Hal itu sejalan dengan keinginan dia yang ingin membuat tempat wisata di lokasi tersebut.
Saat dijumpai SURYAMALANG.COM (grup TribunJatim.com) pada Selasa (19/3), Sulirmanto mengaku, sudah jauh-jauh hari dirinya ingin menjadikan daerah tersebut sebagai tempat wisata.
Bahkan, sebelum ditemukannya Situs Sekaran beberapa minggu belakangan ini.
“Dusun Sekaran ini termasuk daerah yang tertinggal di Sekarpuro. Semenjak saya menjadi Kades, memang daerah ini ingin kami majukan, terutama dari sektor perekonomian warga,” ujarnya.
Kata Sulirmanto, Dusun Sekaran ini memiliki potensi untuk dijadikan tempat wisata.
Hal itu didukung dengan adanya sumber air yang melimpah di daerah tersebut.
“Nanti, kami ingin membangun sebuah kolam renang di samping sumber air yang berada di bibir Sungai Amprong. Sedangkan di Situs Sekaran ini nanti kami ingin banguna sebuah taman agar terlihat asri,” ucapnya.
Sulirmanto berharap kepada pemerintah agar melindungi dan melestarikan pengembangan Desa Sekarpuro yang mempunyai potensi wisata.
“Setelah esvakasi ini selesai, kami ingin mengajak seluruh warga di Dusun Sekaran ini untuk kerja bakti. Terutama di sekitaran sumber air yang berada di Sungai Amprong,” ucapnya.
Kini, setelah dilakukan esvakasi oleh tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, warga Dusun Sekaran mulai memberikan akses jalan kepada para warga yang ingin berkunjung Situs Sekaran.
Di sana juga telah disediakan tempat parkir oleh warga dengan tarif Rp 2.000.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ketua Paguyuban Posyandu Desa Sekarpuro, Hariyani menganggap langkah yang dilakukan oleh Kades adalah hal yang tepat.
Untuk itu, dirinya telah menyiapkan beberapa program kepada para ibu-ibu se-Desa Sekarpuro dalam menyambut kedatangan para tamu nanti.
“Kedatangan kami kemari selain untuk melihat bentuk situs yang ada, juga bertujuan agar para ibu-ibu ini tahu. Bahwa di sini telah ditemukan situs. Ini adalah potensi yang harus kami kembangkan,” ujar Hariyani yang akrab di sapa Bu Kokoh ini.
Rencananya, Bu Kokoh akan membangun ekonomi kerakyatan di Dusun Sekaran dengan menggandengan para ibu-ibu PKK.
Upayanya ialah dengan membuat souvenir, membuat produk cindera mata dan membangun warung-warung yang ada di sekitaran Situs Sekaran.
“Pada intinya ini adalah rencana kami bersama. Dengan upaya itulah kami bisa memberdayakan masyarakat sekitar sini dengan membangun ekonomi kerakyatan. Semoga pemerintah bisa mendengar aspirasi dari kami, agar situs ini nantinya bisa dilestarikan lagi dan dibangun sebuah tempat wisata,” tandasnya.
Sumber: TribunJatim.com