Situs Purbakala Desa Sekarpuro Pakis Malang

Situs Purbakala di Sekarpuro Malang Telah Ditemukan 5 Bulan Lalu, Ada Temuan Koin Kuno Hingga Emas

Situs purbakala yang ditemukan di proyek pembangunan jalan Tol Malang – Pandaan ternyata sudah ditemukan pada November 2018.

Hal itu disampaikan oleh Muhammad Arifin (44) Ketua RT 15 RW 08 Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

“Penemuan situs purbakala ini berserta benda-benda kuno sebenarnya sudah ditemukan sejak lima bulan lalu saat Truk Bego menguruk tanah yang ada di sana,” ucapnya.

Jarak antara penemuan situs purbakala yang berupa struktur bangunan batu-bata dengan penemuan benda-benda kuno sekitar 200 meter.

Kata Cak Mat panggilan akrabnya itu mengaku, tak hanya menemukan koin kuno saja, dirinya juga menemukan emas.

Emas yang ditemukan oleh Cak Mat itu berbentuk segi delapan dengan panjang satu centimeter.

“Kalau bentuk dan fungsinya saya tidak tahu. Tapi kata Dwi Cahyono, ahli sejarawan, emas yang ditemukan itu berbentuk delapan penjuru mata angin seperti yang ada pada zaman Kerajaan Majapahit,” ujar Cak Mat.

Cak Mat mengaku emas yang ia temukan itu pernah ditawar oleh seorang kolektor benda kuno sebesar Rp 4 Juta.

Namun ia tak mau menjualnya lantaran ia ingin mengkoleksi benda-benda kuno yang ia temukan tersebut.

“Sudah banyak yang menawar, tapi saya enggan untuk menjual. Berbeda dengan warga yang lain, saya memang tidak mau menjual koleksi ini,” ucapnya.

Kata Cak Mat panggilan akrabnya itu mengaku, tak hanya menemukan koin kuno saja, dirinya juga menemukan emas.

Emas yang ditemukan oleh Cak Mat itu berbentuk segi delapan dengan panjang satu centimeter.

“Kalau bentuk dan fungsinya saya tidak tahu. Tapi kata Dwi Cahyono, ahli sejarawan, emas yang ditemukan itu berbentuk delapan penjuru mata angin seperti yang ada pada zaman Kerajaan Majapahit,” ujar Cak Mat.

Cak Mat mengaku emas yang ia temukan itu pernah ditawar oleh seorang kolektor benda kuno sebesar Rp 4 Juta.

Namun ia tak mau menjualnya lantaran ia ingin mengkoleksi benda-benda kuno yang ia temukan tersebut.

“Sudah banyak yang menawar, tapi saya enggan untuk menjual. Berbeda dengan warga yang lain, saya memang tidak mau menjual koleksi ini,” ucapnya.

“Jadi koin ini ditemukan tiga meter di dalam tanah di sebuah lemari seperti peti. Kemudian lemari itu pecah dan koin itu berserakan,” ujarnya.

Saat ditanya di mana posisi lemari tersebut, kata Cak Mat telah hancur dan dibuang oleh petugas pembangunan Tol Malang – Pandaan.

Cak Mat hanya memperoleh lempengan besi bekas dari hancurnya lemari tersebut.

“Tak hanya emas, saya juga menemukan benda-benda lain seperti alat pahat, gerabah dan batu akik,” tandasnya.

Sumber: SuryaMalang.com

Hijab Khalewale Desa Sekarpuro Malang

Kerap Dicibir, Kini Hijab Produk Warga Sekarpuro Ini Jadi Favorit Artis Instagram

Siapa menyangka bila usaha rumahan di Pakis, Kabupaten Malang mampu produksi hijab berkualitas favorit artis Instagram. Hijab berbahan viscose dengan label Khalewale itu kian laris manis tak hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Hijab bahan viscose banyak diminati karena bahan nyaman dipakai serta mudah dibentuk. Selain itu, hijab yang diberi nama Jumeirah ini juga tidak mudah kusut sehingga banyak hijaber (sebutan bagi wanita modis berhijab) banyak memborong hijab seharga Rp 40 ribu itu.

Artis Instagram seperti Amelia Elle dan Aghnia Punjabi rupanya kerap mengenakan hijab produksi Ratna Roihaanah Azmi. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu bisa menjual minimal 400-500 pcs hijab dalam waktu seminggu saja.

Jumlah itu hanya memenuhi pasar dalam negeri, sebab wanita yang akrab disapa Nana itu kebanjiran tawaran dari luar negeri. Sayang, Nana belum mau mengirim produk hijab Khalewale ke luar negeri.

“Belum, soalnya masih kewalahan sama stok dalam negeri,” ujarnya kala ditemui MALANGTIMES di rumahnya kawasan Sekarpuro Pakis Kabupaten Malang, Selasa (14/3/2017). Tak pelak, omset usaha hijab Nana itu cukup besar yakni berkisar Rp 20-25 juta.

Hijab Khalwale dijual hanya secara online di akun Instagram @khalewale. Soal nama produk, Nana mengaku punya alasan. Kata ‘Khalewale’ diambil dari bahasa Arab sehari-hari yang artinya terserah.

“Khalewale mengandung banyak makna. Itu bisa berarti terserah. Dan buat saya terserah orang mau bilang apa tentang jualan saya,” tutur wanita berkacamata itu.

Pemilihan nama ‘Khalewale’ tak lain karena banyak yang mencibir keputusan Nana memilih berjualan hijab dibanding bekerja lebih mapan. Apalagi predikat sebagai sarjana, Nana kerap disindir.

“Terserah orang lain jual yang lagi tren misal pasmina instan, tapi bila saya nggak sreg jualan trend seperti itu ya sudah saya jual yang sesuai dengan kemauan saya. Saya tak mau semata mengikuti tren,” kata Nana.

Hijab berlabel Khalewale produksi Nana dibuat di rumahnya di Sekarpuro, Pakis Kabupaten Malang. Selain ia turun tangan dalam proses produksi mulai pemilihan kain hingga menjahit, Nana juga memperkerjakan dua orang ibu rumah tangga.

“Karena saya sangat menjaga kualitas, agak susah mencari pegawai yang bisa sesuai keinginan saya. Makanya saya kewalahan hingga pembeli harus pre-order dulu untuk bisa dapat Jumeirah dari Khalewale,” tandasnya. (*)

Sumber: MalangTimes.com